Revitalisasi Daerah Tangkapan Air dan Mata Air
Di Star Energy Geothermal, kami memahami bahwa air adalah urat nadi bagi operasi kami maupun komunitas yang kami layani. Karena fasilitas panas bumi kami terletak di kawasan pegunungan yang rimbun dengan curah hujan tinggi di Jawa Barat, melestarikan daerah aliran sungai di sekitarnya adalah sebuah tanggung jawab yang mendasar.
Filosofi Tanpa Limbah (Zero-Discharge) Kami
Sebelum melihat ke luar pada hutan, kami melihat ke dalam pada operasi kami. Pembangkitan energi panas bumi memanfaatkan sistem siklus tertutup (closed-loop) yang sangat efisien. Uap yang diekstraksi dari dalam bumi untuk menggerakkan turbin kami dikondensasikan kembali menjadi air dan 100% diinjeksikan kembali jauh ke dalam reservoir panas bumi.
Prinsip “tanpa limbah” (zero-discharge) yang ketat ini memastikan bahwa pembangkit listrik industri kami tidak menyusutkan air tanah permukaan, sungai, dan mata air yang menjadi tumpuan komunitas lokal serta satwa liar.
Aksi Nyata di Lapangan: Inisiatif Regional Kami
Lebih dari sekadar efisiensi operasional, kami secara aktif melakukan intervensi untuk memulihkan dan melindungi daerah tangkapan air alami di tiga aset utama kami:
1. Wayang Windu: Menghidupkan Kembali Mata Air
Beroperasi di wilayah yang rentan terhadap krisis air, kami meluncurkan program restorasi in-situ di bawah inisiatif Citra Bakti Lestari kami untuk menyelamatkan mata air yang mengering di kawasan hutan Leuweung Citere dan Citiis.
Aksi: Bekerja sama dengan pemuda setempat dan kelompok masyarakat, kami telah menanam ribuan pohon kayu keras untuk menstabilkan sub-daerah aliran sungai dan meningkatkan penyerapan air tanah.
Dampak: Reboisasi terarah ini berhasil memulihkan fungsi ekologis daerah tangkapan air, menghidupkan kembali empat mata air yang sebelumnya kering untuk melayani ekosistem lokal dan desa-desa tetangga.
Dampak
per Desember 2025
mata air yang direvitalisasi
2. Salak: Melindungi Daerah Aliran Sungai Taman Nasional
Operasi Salak kami terletak di dalam Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) yang sangat sensitif. Untuk memaksimalkan upaya konservasi kami, jejak operasional kami dibatasi secara ketat hanya sebesar 2,36% dari wilayah kerja yang ditetapkan.
Aksi: Kami bekerja bahu-membahu dengan komunitas lokal untuk memulihkan lahan kritis di dalam taman nasional, secara khusus menargetkan daerah tangkapan air Sungai Cisarua dan hulu Daerah Aliran Sungai Cikaluwung.
Dampak: Upaya reboisasi dan rehabilitasi lahan yang berkelanjutan ini telah menstabilkan tanah, mencegah longsor, dan secara nyata meningkatkan tingkat debit air sungai.
3. Darajat: Memberdayakan Para Penjaga Hutan
Konservasi sejati membutuhkan rasa memiliki dari masyarakat. Di fasilitas Darajat kami di Garut, kami mengambil pendekatan kolaboratif yang mengutamakan masyarakat untuk melindungi mata air.
Aksi: Kami beroperasi di bawah perjanjian kerja sama formal dengan Perhutani (perusahaan kehutanan negara) dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) setempat.
Dampak: Dengan memberdayakan penduduk desa setempat secara ekonomi untuk bertindak sebagai penjaga hutan harian, kami memastikan pemanfaatan yang berkelanjutan dan perlindungan jangka panjang atas mata air vital di kecamatan Bayongbong.